Rapat Koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Majene

Dari hasil pantauan harga di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Majene, terjadi kenaikan harga untuk komoditi Cabe. Diantaranya cabe besar, Cabe Keriting dan Cabe Rawit.  Cabe besar mengalami lonjakan yang cukup signifikan yakni menembus 100 %. Jika biasanya harga cabe besar berkisar Rp. 40 Ribu / Kg, kini mencapai Rp.78 – 80 Ribu /Kg. Untuk jenis cabe rawit kenaikanya belum signifikan yakni Ro.40 Ribu / Kg dari  sebelumnya Rp.35 Ribu/Kg.

Menurut kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Majene Hasdinar Asri selain jelang Hari Raya Idul Adha, tapi juga stok cabe merah besar yang berkurang akibat musim kemarau. Para pedagang harus menunggu penyalur dari Makassar sementara daerah penghasil lainnya seperti Enrekang tidak menyuplai sama sekali. Kondisi tersebut sangat mempengaruhi harga jual, mengingat penyalur dari Makassar pun mematok harga yang tinggi. Hal ini isu utama pembahasan Rapat Koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Majene yang dilaksanakan di ruang rapat Bupati Rabu 7 Agustus 2019.

Hasdinar juga menampik jika kenaikan harga cabe besar merah mencapai 200 %. Jika ada harga diatas Rp.80 Ribu / Kg, hal tersebut di sebabkan  terjadinya transaksi lanjutan, antara pedagang satu ke pedagang ecer lainya.

Meski demikian ada juga beberapa komoditas yang mengalami penurunan. Seperti minyak kepala lokalyang biasanya Rp.11 ribu / liter kini menjadi Rp.10. Ribu / liter. Bawang Merah yang biasanya Rp.30.Ribu / kg menjadi Rp. 28.Ribu / kg. Tomat juga mengalami penurunan harga, jika biasanya Rp.7000 / kg menjadi Rp.6.000 / kg. Menurutnya penurunan harga Bawang Merah akibat karna adanya petani Bawang asal Puawang yang mampu menutupi kebutuhan di pasar.

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan  dan Perkebunan Majene (Distanakbun) Burhan Usman mengusulkan, agar kedepan ada perencanaan yang tepat dalam mengantisipasi lonjakan harga komoditas di setiap hari – hari besar keagamaan dan lainya. Alternatifnya, dengan memberikan perhatian kepada petani dan masyarakat melalui penganggaran pada Distanakbun. Ia menilai ada beberapa menu-menu program yang bisa digeser atau digantikan peruntukanya, semisal jalan usaha tani yang dianggap sudah terlalu banyak. “ itu kan sudah banyak, seharusnya kita sudah bisa mengantisipasi jadwal panen sesuai dengan  hari-hari besar yang ada “ Terang Burhan.

Ketua TPID Kabupaten Majene Fahmi Massiara yang memimpin rapat kordinasi tersebut gejolak harga pangan yang tiba-tiba dan ekstrem bisa menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan masyarakat. Pasalnya, ketahanan pangan secara langsung akan berdampak pada ketersediaan, akses, dan pemanfaatan pangan. Tidak hanya itu, jika  masyarakat dengan ekonomi rendah  akan menjadi pihak yang paling merasakan. “ Bayangkan, masyarakat kelas menengah ke bawah dapat menghabiskan 60% hingga 70% pendapatan mereka hanya untuk makan. Artinya, jika harga komoditas meningkat signifikan, biaya yang mereka keluarkan untuk makanan pun ikut meningkat” Untuk itu ia berharap, dengan beberapa masukan dari anggota TPID akan menghasilkan solusi untuk masyarakat.

Rencanaya Jumat 9 Agustus mendatang, akan dilakukan Sidak, di pasar Tradisional sentral Majene oleh TPID kabupaten Majene. Kepala  Bulog Polman Hastuti juga berjanji bakal mencari informasi terkait stock cabai merah besar untuk di suplay ke Majene. “ secepatnya kami akan cari informasi karna di Kabupaten Polman petani cabai tengah masa panen, kami upayakan bisa di bawa ke Majene juga untuk menutupi lonjakan harga” ungkapnya.

Hadir dalama Rakor tersebut, Dandim 1401, Kepala BPS Majene, Kepala Bulog Polman, Pimpinan OPD dan Stakeholder lainya.

🔥168

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here