Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah Kab Majene 2017

Badan Pusat Statistik (BPS) kabupaten Majene merilis persentase inflasi di Kabupaten Majene pada maret 2017 berada di angka 0,59 % dengan indeks harga konsumen (IHK) diangka 103,97. Tingkat inflasi tersebut lebih rendah di tahun kelender februari 2017 terhadap desember 2016 yang mencapai 2,49 %. Beberapa sub kelompok yang dominan dalam inflasi maret 2017, diantaranya ikan segar jenis layang 0,41 %, serta bumbu – bumbu rumah tangga 0,06 % untuk jenis komodititi cabe merah dan asam. Beberapa sub kelompok tersebut juga di prediksi akan mengalami kenaikan harga jelang ramadhan mendatang. Peningkatan nilai Inflasi lumrahnya akan terjadi pada hari – hari besar keagamaan semisal puasa, lebaran, natal termasuk pada pergantian tahun. Hal ini juga di sampaikan Kepala dinas koprasi UKM Perindag kabupaten Majene Hasdinar Asri pada rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Majene 12 april kemarin. Meski demikian, yang perlu di antisipasi saat ini, adanya upaya pelaku pasar yang menimbun kebutuhan pokok sehingga beberapa komoditas penting menjadi langka dipasaran. Selain itu katanya,  antisipasi lain yang bisa dilakukan dengan menggelar pasar murah disejumlah titik kecamatan. “ yang perlu di fikirkan ini, karna jelang puasa adanya upaya penimbunan kebutuhan pokok di pasaran, untuk itu perlu kerjasamanya dengan semua pihak yang terkait, mengenai lonjakan harga saat puasa akan di antisipasi dengan mengadakan pasar murah” terang Hasdinar. Ia juga mengatakan pihaknya kesulitan dalam mengontrol dan mengetahui  harga kebutuhan pokok di pasaran. Selain karna kekurangan personil atau tenaga di lapangan, keberadaan pasar tradisionil yang berada hampir ditiap kecamatan tidak memiliki kesamaan jadwal pasar. “ misalnya hari di kecamatan pamboang senin rabu jumat, di Malunda selasa, kamis, sabtu begitu pun di kecamatan lain” pungkasnya.

Kepala perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulbar Dadal Angkoro mengatakan, fluktuasi harga dipasaran merupakan resiko yang harus diwaspadai. Pasalnya, hal tersebut  terkait kesejahteraan warga dan juga kebutuhan sandang pangan dan papan. Untuk itu ia juga berharap koordinasi yang solid dengan seluruh pejabat TPID akan menghasilkan kombinasi kebijakan yang terintegrasi, sehingga secara keseluruhan berdampak positif bagi terjaganya harga barang pokok bagi masyarakat. “ untuk menjaga ke stabilan harga perlu perencanaan yang matang, salah satunya kita bekerjasama dengan BMKG, untuk memprediksi pergerakan cuaca dalam satu tahun, ini juga yang bisa di informasikan kepada petani melalui Dinas pertanian setempat, mengenai waktu tanam yang cocok pada bulan – bulan tertentu, juga terkait dengan kelancaran distribusi” jelasnya.

Sementara itu Bupati Majene Fahmi Massiara yang membuka rakor TPID yang di gelar di ruang rapat wakil bupati berharap tiap komoditas produk terutama jenis usaha yang menjadi unggulan UMKM, untuk dapat lebih diberdayakan lagi melalui pendekatan yang terintegrasi dari hulu ke hilir, yang juga berorientasi pada peningkatan produktivitas nilai tambah dan daya saing. “ Untuk menjaga stabilitas  harga merupakan  tugas seluruh pihak terkait, mulai dari pemerintah maupun pemangku kepentingan “ . Ia juga mengatakan OPD terkait harus lebih proaktif berkoordinasi dengan memberikan data dan informasi kepada pihak terkait utamanya sekrtetariat TPID dalam hal ini Bapeda Majene

Hadir dalam rakor tersebut, kepala Bapeda Majene, perwakilan Rektor Unsulbar, Kepala BPS Majene, BMKG, perwakilan dari perum Bulog, staf ahli bidang ekonomi pembangunan setda Majene dan perwakilan OPD lingkup pemada Majene.

🔥107

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here